INGKAR JANJI TERHINA DI DUNIA
Tsa'labah bin Hatib, sebagaimana diceritakan oleh Ath-Thabari dan Al-Qurthubi ketika menjalaskan tafsir Surah At-Taubah ayat ke 75-77, pada mulanya hidup dalam kemiskinan.
Lalu pada suatu ketika, Tsa'labah mendatangi Rasulullah SAW. "Ya Rasulullah", kata Tsa'labah, "Do'akanlah supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadaku", Rasulullah SAW, menjawab " Ya Tsa'labah. Tidakkah engkau ingin meniru keadaanku? Apabila aku mau, bukit-bukitpun dapat aku suruh berjalan bersamaku".
Indahnya kesederhanaan hidup Rasullah SAW, tertutupi dari pandangan hati Tsa'labah ketika itu. Ia tetap saja mendesak agar Rasullah SAW, mau mendoakannya. Rasulullah akhirnya mengalah. Beliau mendo'akan sahabatnya itu.
Selang beberapa lama kemudian Tsa'labah mulai berniaga. Ia membeli hewan ternak dan memeliharanya. Peternakan Tsa'labah yang tadinya kecil mulai menjadi besar. Kandang yang tadinya sempit mulai menjadi luas.
Bahkan tak pernah merasa cukup dengan itu semua, ia pun membangun peternakan yang lebih luas ditanah yang agak jauh dari Madinah.
Lupa Janji
Tsa'labah kian hari bertambah sibuk, lama kelamaan ia berani meninggalkan shalat berjamaah di masjid pada siang hari. Lalu pada malam haripun ia berani juga meninggalkan shalat berjamaahnya. Bahkan shalat jumat pun ia berani meninggalkannya. Tsa'labah menjadi orang kaya yang sibuk.
Cerita tentang Tsa'labah ini sampai juga ketelinga Rasulullah SAW. Ketika turun perintah zakat, Rasulullah SAW, segera menugaskan dua orang sahabat untuk menemui Tsa'labah dan mengambil zakatnya.
Tsa'labah tak segera memberikan zakatnya kepada kedua sahabat utusan Rasulullah SAW, ini pada hari tersebut, meskipun ia juga tak menolaknya. Rasulullah SAW, yang mengetahui kejadian ini berujar. "Celaka Tsa'labah". Lalu turunlah ayat berikut:
ومنهم من عهدالله لئن ءاتنا من فضله لنصدقن ولنكونن من الصلحين
فلما ءاتهم من فضله بخلوا به وتولوا وهم معرضون
فأعقبهم نفاقافي قلوبهم يوم يلقونه بما أخلفوا الله ما وعدوه وبما كانوا يكدبون
Dan diantara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang yang shaleh. Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling dan selalu menentang (kebenaran). Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya. Karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta (At-Taubah [9]: 75-77)
Ketika Tsa'labah mendengar berita turunnya ayat ini, iapun amat ketakutan. Ia bergegas menemui Rasulullah SAW, dan berkata. " ya Rasulullah,ini harta zakatku".
Rasulullah SAW, bersabda, Allah melarangku menerimanya,"
Tsa'labah menangis mendengan perkataan Rasulullah SAW, ia melumuri kepalanya dengan tanah.
Rasulullah SAW, kemudian bersabda lagi, "ini karena ulahmu sendiri. Aku memerintahkanmu tetapi kamu tidak mentaatiku".
Setelah Rasulullah SAW meninggal, Tsa'labah menyerahkan zakatnya kepada Khalifah Abu Bakar, namun Khalifah pun menolaknya. Demikianpun pada masa kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab. Hingga akhirnya sta'lbah meninggal pada masa pemerintahan Utsman bin Affan.
JANGAN SEPELEKAN JANJI
Peristiwa tragis yang menimpa Tsa'labah meninggalkan pesan sakral janji kepada Allah SWT. Wajib dipenuhi. Menghianati janji kepada Allah akan mendatangkan murka-Nya. Di dunia ia terhina, di akhirat ia tertimpa azab.
وأوفوا بعهد الله إذاعهدتم ولا تنقضوا الأيمن بعد توكيدها وقدجعلتم الله عليكم كفيلا إن الله يعلم ماتفعلون
Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu sesudah meneguhkannya, sedangkamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu) sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat(An-Nahl [16]:91)
Betapa seringnya kita berjanji kepada Allah dalam setiap shalat. Kita mengikrarkan setidaknya 10 kali dalam sehari melalui shalat.
Kitapun selalu melafalkan do'a iftitah dalam shalat. Do'a tersebut sesungguhnya adalah janji kita kepada Allah. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matikuhanyalah untuk Tuhan semesta Alam, tiada (sesuatupun) yang berserikat dengan-Nya. Dan dengan demikian itulah aku diperintahkan. Dan aku termasuk orang yang berserah diri.
Bahkan pada saat diri kita masih berupa ruh sebelum ditiupkan kedalam jasad (embrio). Kita sudah berjanji dihadapan-Nya sebagaimana firman-Nya:
وإذ أخذ ربك من بني ءادم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على انفسهم ألست بربكم قالوأ بلى شهدنا
Dan ingatlah ketika Tuhan mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman "benarkah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab "betul (engkau Tuhan kami) kami bersaksi……(Al-A'raf [7]: 172)
Tapi betulkah kita benar-benar menjadi saksi? Apalah artinya pernyataan "aku bersaksi" dan "aku nyatakan", jika tidak diiringi kesungguhan untuk membuktikannya dengan ketaatan kepada Allah SWT.
Jika kita mau intropeksi diri, berapa kali kita telah mengingkari janji kepada Allah, padahal Dia telah memperingatkan lewat firman-Nya:
ولا نقربوأ مال اليتيم الا بالتى هى أحسن حتى يبلغ أشده, وأوفوا بالعهد إن العهد كان مسئولا
….dan tepatilah akan janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanya. (Al-Isra [17]: 34)
Ketika sakit kita berdoa dan memohon kepada Allah " Ya Allah, sembuhkanlah penyakitku, berilah kesehatan dan jauhkanlah aku dari segala penyakit".
Tak sedikit diantara kita kemudian berjanji kepada Allah SWT. Setidaknya didalam hati, untuk memperbaiki ibadah dan ketaatan kepada-Nya jika kelak telah sembuh. Tetapi apa yang terjadi setelah Allah benar-benar menyembuhkan kita? Kitapun lupa dengan janji-janji kita.
MUKMIN ANTI INGKAR JANJI
Tanda-tanda keimanan itu jelas. Salah satunya, memenuhi janji, tidak ingkar dan menyelisihinya.
Sebaiknya orang-orang beriman akan bersungguh-sungguh memenuhi janjinya. Allah Swt, menjelaskan bahwa salah satu ciri orang berimanadalah selalu menepati janjinya.
والذين هم لأمنتهم وعهدهم زعون
…….dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya Al-Mu'minun[23]: 8)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan, "amanah dan janji itu mencakup seluruhurusan agama dan dunia yang dipikul oleh manusia, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Ini mencakup juga muamalah manusia, janji-janji dan lain sebagainya. Tujuan adalah menjaga dan melaksanakan amanah-amanah dan janji tersebut".
Ibnu Qayim juga berkata, "ini mencakup janji-janji mereka dengan Allah yang harus dipenuhi untuk-Nya dengan keikhlasan, keimanan dan ketaatan serta janji-janji mereka terhadap Makhluk."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar